Sosial
Rabu, 11 Januari 2017 - 01:18:02 | bambang-widi / Sorot Wonogiri

Berkat Ketelatenan, Berkah Tampah Jadi Rumah Mewah
Berkat Ketelatenan, Berkah Tampah Jadi Rumah Mewah
Sri Wahini bersama dagangannya serta rumah mewah yang berhasil ia bangun berkat berjualan tampah (Foto by Bambang Widi)

Manyaran, (sorotwonogiri.com)--Jangan pernah memandang rendah seorang penjual tampah. Karena tampah bisa mencetak rumah megah dan mobil mewah dengan segala perabotan yang tak bisa dibilang murah. Hal ini bisa dilihat dari kehidupan Nyonya Sri Wahini (47), warga Desa Bero, Kecamatan Manyaran.

Menyandang gelar sarjana pendidikan dari IKIP Semarang, Sri Wahini tak pernah terlihat mengenakan baju kheki ataupun Korpri ala pegawai negeri. Gelar itu dia tanggalkan bersama seragam Korpri yang dia sandang sejak menjadi guru honorer di sebuah sekolah negeri. Sri Wahini memilih mengenakan baju biasa dengan tas pinggang melingkar di perutnya. Murid-murid yang dihadapi seorang sarjana pendidikan ini adalah tumpukan tampah, capil, bakul, tompo, kukusan dan berbagai peralatan rumah tangga dari bambu ciri khas pedesaan.

Sedang tempat kerja Sri Wahini adalah pasar Kecamatan Wuryantoro, Pracimantoro, serta Eromoko. Dia menjadi pedagang tampah dan barang anyaman bambu lainnya di tiga pasar kecamatan itu sejak 1992.

“Tiga pasar ini hari pasarannya lain-lain. Jadi setiap hari saya berjualan di pasar berbeda. Hanya hari pasaran Pahing saya tidak berjualan karena ketiga pasar ini tidak ada yang pasaran,” tutur Sri Wahini saat bertemu di pasar Eromoko, Selasa (10/1/2017).

Sebagai sarjana pendidikan berwajah tergolong cantik, ternyata pasangan hidup Sri Wahini bukanlah pejabat atau guru PNS. Suratno, nama sang suami, adalah tukang batu. Namun justru karena profesi sang suami inilah, Sri Wahini mampu menepis stigma kemiskinan yang biasanya melekat pada komoditas dagangannya.

Sebuah bangunan megah di atas tanah seluas seribu meter persegi lebih, dibangun dengan tangan Suratno sendiri. Di dalamnya terdapat sebuah mobil mewah berikut perabotan lengkap mewah lainnya.

Gedung megah dengan design bercita rasa seni itu pembangunannya berlangsung selama 15 tahun. Hal itu selain karena dikerjakan sendiri oleh Suratno, materialnya dibeli secara bertahap dari hasil menyisihkan hasil penjualan tampah dan yang lainnya.

“Saya dulu berjualan hanya bermodal Rp 50 ribu. Tapi karena saya tekuni terus, usaha saya berkembang hingga bisa menabung sedikit-sedikit,” tutur Sri Wahini.

Dari tabungan yang dia bilang sedikit, Sri Wahini membeli material yang langsung diwujudkan menjadi bangunan oleh sang suami. Bulan berikutnya membeli material lagi dari hasil tabungan sebulan dan disusulkan untuk menambah material yang sudah terpasang sebelumnya.

“Tidak langsung jadi. Paling bulan ini bisa beli satu dua rit pasir. Bulan berikutnya beli besi atau material lain. Setelah material komplit, suami saya menggunakannya untuk menyicil bangunan. Begitu seterusnya hingga rumah kami ini baru selesai dibangun selama 15 tahun,” ujar perempuan yang bersahaja tersebut.

Jangka waktu 15 tahun itu ternyata bukan asal, melainkan sebagai target Suratno. Adapun target waktu 15 tahun itu dengan perhitungan, kedua anak mereka belum butuh biaya besar untuk sekolah.

“Kalau sampai 15 tahun tidak selesai, kami akan keberatan karena biaya sekolah anak semakin besar,” jelas Suratno.

Akhirnya berkat kesederhanaan, keuletan dan kejujuaran pasangan suami istri itu, gedung megah layaknya istana yang mereka impikan terselesaikan. Sikap hidup orang tua akhirnya ditiru oleh anak-anak. Terlihat dua orang anak hasil pernikahan Suratno dan Sri Wahini berhasil menyelesaikan kuliah di Perguruan Tinggi Negri dengan prestasi sangat membanggakan.

“Alhamdulillah, kedua anak saya langsung mendapat pekerjaan dengan gaji cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka,” tandas Sri Wahini.

Berita Terkait :